Admin Desa 12 April 2018 Umum

RI di Ambang Krisis Kekurangan Pekerja di Sektor Pertanian?

Liputan6.com, Jakarta Sektor pertanian Indonesia mulai ditinggalkan generasi muda. Bahkan komposisi generasi muda di sektor tersebut terus mengalami penurunan.

Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, saat ini jumlah petani muda dengan usai di bawah 35 tahun terus berkurang. Sektor ini didominasi petani tua yang masih bertahan.

"Kalau data resminya semakin menurun. Petani muda di bawah 35 tahun itu semakin menurun. Populasinya semakin drop sehingga komposisinya sekarang membengkak di atas, dalam arti petani-petani tua ini semakin dominan," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Minggu (28/1/2018).

Sedangkan jumlah petani atau keluarga tani diperkirakan terus menurun sebanyak 500 ribu per tahun. Hal ini membuat sektor pertanian di dalam negeri semakin ditinggalkan.

‎"Jadi tiap tahun jumlah petani dari lahannya kira-kira 500 ribu. Jumlah petani itu berdasarkan sensus pertanian sudah menurun 5 juta keluarga tani sejak 2003-2013, dari 31 juta menjadi 26 juta keluarga tani," kata dia.

Menurut Andreas, alasan terus menurunnya sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian lantaran usaha tani dinilai tidak memberikan keuntungan. Selain itu, sektor tersebut juga dinilai tidak memiliki prospek ekonomi yang baik.

"Karena alasan ekonomi. Karena berusaha tani dipandang tidak menguntungkan. Kalau usaha tani ini dipandang menguntungkan, tentu arus balik yang terjadi dari pada jadi buruh pabrik atau kuli bangunan, kalau bertani lebih menguntungkan ya lebih baik jadi buruh tani. Dan kenyataan statistiknya juga demikian, upah buruh tani, pendapatan usaha tani ini lebih rendah dari pada kerja di tempat lain," tandas dia.

Jokowi Ingin Petani Jual Beras

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin para petani menjual hasil panennya dalam bentuk beras, bukan lagi hanya gabah. Sebab keuntungan terbesar dari menanam padi sawah terjadi saat pasca panen bukan pada saat panen.

Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika berbicara pada Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) Terintegrasi di Kawasan Transmigrasi, KTM Kabupaten Mesuji, Minggu 21 Januari 2018. Selama ini, kata dia, petani mengurus sawah dengan mengairi, memupuk dan panen, setelah itu menjualnya dalam bentuk gabah.

"Padahal keuntungan besar itu pada saat jadi beras. Jadi saya sampaikan agar jualnya dalam bentuk beras. Syukur sudah dikemas. Ini di penggilingan padi modern ini bisa dilakukan,” ujar dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (22/1/2018).

Di lokasi Kawasan Transmigrasi, KTM Kabupaten Mesuji, terdapat pabrik penggilingan padi. Presiden ingin melihat produktivitas dari penggilingan padi tersebut.

"Saya mau lihat dulu apa kapasitas di sini cukup atau enggak. Kalau enggak bisa ditambah. Bermanfaat atau tidak bermanfaat. Kalau tidak sudah tinggalkan. Kalau bermanfaat akan dibesarkan lagi sehingga kapasitasnya memenuhi yang ada di masyarakat," kata dia.

Saat ini, ‎gabah yang dihasilkan petani hanya dihargai sebesar Rp 3.500 setiap kilogram (kg). Sedangkan harga beras berada di kisaran Rp 10 ribu-Rp 11 ribu per kg.

"Ini yang perlu kita lakukan bersama-sama sehingga sekali lagi produk pertanian kita tidak ketinggalan zaman. Ada pengerjaan setelah panen, pengeringan, digilang, dikemas baik apalagi diberi nama baik juga dikemas dalam kelompok besar petani, diberi merek. Itu akan memberi nilai tambah dengan menaikkan harga," jelas Jokowi.

Selain itu para petani harus mulai memikirkan untuk menjual hasil sawahnya tidak hanya di sekitar Mesuji. "Kalau dikemas yang baik orientasinya bisa dijual ke provinsi lain, bisa ke Lampung, bisa ke luar pulau atau kalau berasnya organik sekarang ini permintaan ekspor juga banyak sekali," lanjut dia.

Penjualan dapat dilakukan secara online melalui e-commerce dan media sosial. "Mulai harus seperti itu. Jadi pembelinya tidak sekitar itu kalau mulai online semua orang seluruh Indonesia, dunia, bisa membeli," kata dia.

Jokowi juga mengingatkan pentingnya petani melakukan konsolidasi dalam kelompok besar sehingga memiliki skala produksi yang besar. "Jangan bergerak sendiri akan sulit. Kalau bisa berproduksi dalam skala besar nanti petani bisa bersaing," kata dia.